Presiden Jokowi tak gentar dengan UE dan siap melakukan banding atas kekalahan gugatan terhadap Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO). Dalam hal itu, Jokowi pun mengutus Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk tidak takut mengajukan banding soal larangan ekspor nikel yang telah dilakukan Indonesia.
Presiden mengatakan, larangan ekspor nikel merupakan lompatan besar bagi Indonesia. Soalnya, nikel yang selama ini diekspor mentah-mentah kini akan diolah menjadi barang jadi atau setengah jadi yang lebih berharga.
"Saya sampaikan kepada bu Menteri Luar Negeri (Retno Marsudi) untuk jangan mundur. Kalau banding nanti kalah, saya nggak tahu ada upaya apa lagi yang kita lakukan. Tapi itulah sebuah perdagangan yang kadang menekan sebuah negara agar mereka ikut aturan main yang dibuat negara besar. Sehingga kalau kita ekspornya kirimnya bahan mentah, sampai kiamat kita hanya menjadi negara berkembang" tegas Jokowi.
Presiden Jokowi sejak tiga tahun lalu telah melarang ekspor bijih nikel ke luar negeri. Kegiatan larangan ekspor itu diiringi dengan pengembangan hilirisasi di dalam negeri. Dengan pelarangan ekspor itu, Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia mendapatkan lompatan nilai tambah yang signifikan. Dari yang sebelumnya hanya berkisar Rp17 triliun menjadi Rp360-an triliun pada tahun-tahun 2021.
"Ini baru nikel, bauksit kemarin kita umumkan di Desember setop juga mulai Juni 2023 dan akan kita industrialisasikan di dalam negeri. Saya nggak tahu lompatannya, tapi kurang lebih Rp20 menjadi Rp60-Rp70 triliun," terangnya.
Jokowi menceritakan, dalam kesempatannya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, ia menyampaikan bahwa kemitraan perdagangan harusnya memiliki nilai kesetaraan dan tidak boleh ada pemaksaan oleh negara mana pun.
"Negara mana pun tidak boleh mendikte dan
tidak boleh negara maju merasa standar mereka lebih bagus dari negara kita.
Kenapa ini terus saya ulang ulang, karena saya ingin Presiden ke depan juga
berani melanjutkannya, tidak gampang ciut nyali, tidak gentar demi kepentingan
bangsa demi kepentingan negara," tegasnya.
0 Komentar