Dibandingkan 2 bakal capres lainnya yakni Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo, elektabilitas Anies Baswedan cenderung tertinggal. Hampir seluruh survei memotret, elektabilitas Anies diurutan buncit, jauh di bawah 2 kompetitornya tersebut.
Terbaru, hasil penelitian Laboratoriom Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), di Jawa Timur elektabilitas Anies kalah jauh dari Prabowo dan Ganjar. Bahkan jika head to head, Anies kalah dari keduanya dengan agregat elektabilitas yang jauh.
Pengamat politik, Salahudin, menilai memang ada kekhawatiran termasuk dari Nasdem terhadap elektabilitas Anies tersebut.
"Elektabilitas Anies semakin merosot, semakin kalah jauh dari Prabowo dan Ganjar. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Anies dan Nasdem untuk meningkatkan elektabilitasnya. Kecuali hadir pada forum terbatas di beberapa daerah yang merupakan basis Nasdem," kata Salahudin.
Upaya dengan memberi panggung melalui media, dan berbagai kesempatan termasuk saat apel siaga beberapa waktu lalu, menurut Salahudin, tidak juga menunjukkan peningkatan yang positif. Justru yang mencuat belakangan, soal soliditas Koalisi Perubahan, yang terus digoncang kabar akan adanya partai yang menarik diri. Saat ini, Koalisi Perubahan digagas oleh Nasdem, PKS dan Partai Demokrat.
Sebab, jika salah satu partai memilih untuk keluar dan merapat ke poros lain, maka untuk mengusung Anies tidak bisa lagi. Sebab, gabungan partai yang tersisa tidak mencapai Presidential Threshold atau PT, ambang batas suara nasional untuk mengusung capres-cawapres.
Salahudin yang juga pengajar Ilmu Pemerintahan di FISIP Universitas Muhammadiyah Malang itu, mengatakan situasi yang seperti ini membuat Anies maupun Nasdem, tidak percaya diri untuk bermanuver.
"Sementara lawan politik lainnya semakin gencar gesit membuat eskalasi politik yang dianggap merugikan Anies dan Nasdem," katanya.
0 Komentar