Penting bagi kita memilih bakal calon pemimpin yang bukan saja layak, tapi hal yang lebih penting dari sekedar menggantikan kedudukan Presiden adalah, kita harus dapat memastikan dan memperoleh jaminan terhadap figur dimaksud, apakah figur yang akan kita usung dapat dipastikan akan melanjutkan program nawacita yang telah dicanangkan pemerintahan saat ini.
Sebisa mungkin kita harus bisa mengupayakan untuk tidak berbuat ceroboh dalam menentukan arah bagi kemajuan bangsa, dengan turut berpartisipasi memilih seorang pemimpin.
Perlu disadari oleh semua pihak, bahwa hal ini bukan sekedar memilih presiden, tapi lebih kepada upaya kita memilih pemimpin yang mampu menyelamatkan bangsa ini dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.
Dan anasir-anasir jahat dari kekuatan yang berusaha mengusung figur yang memiliki sejarah hitam, dimana figur dimaksud memiliki catatan sebagai tokoh yang sampai saat ini belum juga bertanggung jawab dan menuntaskan "dosa sejarah" yang pernah dilakukan.
Hal yang tidak mungkin kita memberikan dukungan kepada seseorang yang tangannya berlumuran darah ratus bahkan ribuan nyawa yang menjadi korban keganasannya, kita juga wajib menolak jika seorang pembohong yang menghabiskan anggaran untuk kesejahteraan masyarakatnya menjadi bancakan diri dan kroninya.
Melalui rekam jejak yang bertebaran di berbagai media kita bisa dengan mudah menemukan, misalnya saja bagaimana ketika seorang yang pernah menjabat sebagai Pangkostrad memiliki jejak pembantaian di kampung Kraras, yang sekarang provinsi itu menjadi negara Timor Leste.
Dan banyak lagi catatan kelam dari sepak terjangnya yang menjadikan rakyat Indonesia sebagai korban kebiadabannya, salah satu dari sekian banyak pembantaian yang dilakukannya adalah tragedi penculikan atas aktivis mahasiswa yang sampai saat ini tidak diketahui rimbanya.
Beruntung manusia ini bisa kembali lagi setelah menghindar dari tanggung jawab atas peristiwa penculikan yang dilakukannya. "Forgive but don't forget" senarai kata-kata bijak yang diungkapkan oleh pejuang kemanusiaan Nelson Mandela, yang mungkin menjadi salah satu pertimbangan mengapa Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memberi kebebasan seorang Prabowo untuk kembali kepangkuan ibu Pertiwi.
Memaafkan adalah sikap mulia sekaligus senjata pemusnah atas rasa benci yang dapat membinasakan kita semua. Dan lebih penting dari itu semua, adalah kata larangan agar kita tidak melupakan peristiwa yang melukai perasaan, menghancurkan esensi kemanusiaan, dan mencederai esensi kita sebagai manusia, untuk tidak sesekali melupakan pelajaran paling berharga, dengan kalimat larangan "JANGAN MELUPAKAN!"
Hal sarat dengan makna, bahwa kita tidak akan pernah menjadi manusia seutuhnya, sekaligus bangsa yang tidak pernah mau belajar jika mudah melupakan pengalaman pahit yang telah merusak tatanan kehidupan kita sebagai bangsa.
Moralitas kita sebagai anak bangsa harus menjadi karakter kebangsaan yang mengagungkan kasih sayang kepada sesama, dan menjadi manusia terdepan menentang segala bentuk kezaliman karena mampu menghancurkan seketika sendi-sendi kehidupan.
Sebagai penutup, penulis perlu mengingatkan kembali "jangan pernah menjadi generasi pelupa jika tidak menghendaki bangsa ini dikuasai segelintir manusia yang berbuat kerusakan menjadi penguasa!"
0 Komentar